Monday, May 30, 2011

Schering Bridge

Akhirnya tiba juga mencicipi praktikum di laboratorium HV kampus sini, yang secara bombastis sudah saya tuliskan dalam motivation essay saya terdahulu, "ingin melakukan penelitian di HV Lab terbesar kedua di Eropa". Walau pernyataan terbesar kedua tadi boleh debateable, tapi setidaknya begitu informasi yg saya peroleh dari website resmi kampus ini.

Satu dari dua praktikum dasar yang kami lalui adalah tentang pengukuran tangen delta dan nilai kapasitansi insulasi dielektrik. Rekan-rekan saya satu tim (terdiri dari 7 orang), antusias sekali mengikuti setiap percobaannya. Dan khusus bagi saya, ini mengingatkan kembali kebersamaan bersama rekan2 har  selama melakukan pengukuran tangent delta di lapangan. Alat uji yang mampu meniinjeksi 12 kV ini, merupakan "mainan kegemaran" saya ketika mengenal dunia asesmen peralatan transmisi tegangan tinggi.


(foto ditampilkan tanpa seijin tokoh, Pak Bambang tengah menguji Tan Delta CT 150 kV bersama rekan2 KP dari Politeknik UGM) 

Berbeda dengan alat uji yang kami miliki, yang sudah serba otomatis, praktikum kemarin, benar2 mengupas tuntas metode Schering Bridge yang menjadi konsep dasar pengukuran nilai kapasitansi dan Tangen Delta.  Kapasitor standar yang digunakan tidak built in, seperti alat portable yang kami miliki, namun benar2 menggunakan sebentuk kapasitor standar buatan tahun 1979 dengan nilai 100nF tertera jelas pada nameplatenya.


Secara singkat prosesnya seperti skema di atas,  Ru dan Cu adalah 2 besaran dielektrik yang hendak kita ukur. C3 adalah nilai Kapasitansi standar, sementara C1 dan R2 adalah nilai kapasitansi dan tahanan yg bisa kita atur besarannya sebagaimana sehingga Deviasi Galvano D = 0. Cu memberikan nilai kapasitansi dari media dielektrik yang hendak kita investigasi, dan nilai Ru kemudian digunakan dalam perhitungan nilai tangent delta.





Selama praktikum saya juga teringat saat2 kami dahulu bergantian merelakan jempol untuk menekan 2 tombol safety selama proses pengujian menggunakan alat uji portable. Atau,  perdebatan tentang tindakan intuitif terdahulu menggunakan "interference surpressor" , ataupun fungsi "guard" yang (ternyata) mengaktifkan penggunaan Op Amp dalam rangkaian internal alat uji, guna mengkompensasi kemungkinan arus bocor dr rangkaian Sisi HV ke rangkaian pengukuran. 

Supervisor praktikum kami bercerita tentang pengalaman lucunya saat dulu masih seorang test enjinir muda di Kema, seharian dirinya dibuat pusing ketika menguji kapasitansi antar fasa, sebuah power cable 3 fasa. Yang sebenarnya atasannya sudah tahu, bahwa antar fasa nya diselubung oleh lapisan metal shield, yang tidak memungkinkan nilai kapasitansinya bisa diukur. Wah kok sama ya, bagaimana kami dulu juga pusing dibuat ketika mengukur kapasitansi interwinding, IBT 500 kV merk tertentu, yang desainnya memiliki "intershield winding" antar belitan phasanya. Sama kasus, beda peralatan. Setiap orang memang akan melewati tahapan yang sama untuk mencapai satu tahap pemahaman tertentu, kira2 begitu hikmahnya.


Well, well .. Lot of Fun !

Kelak detil akan saya tuliskan, atau setidaknya akan saya ceritakan di tengah senda gurau, saat kembali nanti bersama kawan2 di lapangan. Berteman nasi padang bungkus, saat perut lapar di siang hari, jelas itu satu hal yang saya rindukan saat ini. 

Sunday, May 29, 2011

Sebuah Lamunan Senja

Duduk di sore hari seperti ini membuat saya merenung banyak tentang Nusantara nun disana. Yang terbatas hanya lewat media saya dapat mengetahui beritanya. Tentu saja miris, saya yakin, kemirisan yang sama juga dialami banyak orang yang berada di bawah Merah Putih yang sama. Setiap hari kolom berita berisi tentang situasi yang tidak meng-enakkan, sebut saja cemarut hukum, ketidakwibaan pemerintah dan wakil rakyat, kasus korupsi-korupsi-korupsi-korupsi .. (entah saya harus tulis berapa kali lagi), kasus pembunuhan, teror yang disebar, pandangan separatis, sampai berita2 tentang kekalahan tim nasional negara sendiri.

Saya hanya membayangkan, kalau saban hari yang melulu dibaca adalah berita seperti ini, sekira mental apakah yang akan terbangun dari setiap insan dari ratusan juta penduduk disana? Baiklah, kemudian lebih teliti berpikir, bahwa bad news is a good news, lalu siapa yang ada di balik semua ini dan tengah membangun opini publik serta meruntuhkan semangat juang masyarakatnya. 

Atau memang, perjalanan pembelajaran kehidupan ini pergerakkannya lamban. Butuh puluhan dan ratusan tahun untuk membangun sebuah masyarakat yang besar yang sedari pondasinya. Dan lebih butuh banyak lagi insan2 pembangun, yang tidak berambis dibangunkan monumen untuk mengenang jasa2nya, namun secara sukarela menjadi satu mata rantai dalam perjalanan menuju kebesaran bangsa tersebut.

Gambar berikut saya ambil dari wikipedia, tentang sejarah panjang berkehidupan di Nusantara:


Betapa perjalanan panjang ribuan tahun, telah membawa kita pada hari ini, hari dimana istilah demokrasi tengah menjadi trend, dalam konteks pragmatis: saya bebas berbicara, bebas melakukan apa saja, dan kebenaran adalah banyak-banyakan jumlah acungan jari. Lihatlah ke belakang, apa yang pernah terjadi dan sudah menjadi pelajaran dalam sejarah kehidupan kita, lalu melangkah kembali lebih baik di depan. Sebuah looping proses yang terus menerus dan berkelanjutan.
...

Air panas sudah bergolak, bergegas harus kuseduh kopi instan, bayangan ujian oral exam mendatang memecah lamunan serta kembali mengingatkan bahwa setidak2nya dlm perjalanan singkat hidup,  manusia bersedia  menjadi bagian dari mata rantai yang besar. menjadi secuil sekrup, dari sebuah mesin sinkron yg kompleks.. :)