Monday, March 26, 2012

Essay tempoh dulu

Membuka file lama, menemukan essay ketika melamar ke kampus TU Delft, dari ke-5 halaman itu, petikan-petikan berikut ini  mengingatkan kembali tujuan awal ketika bersekolah disini ..


 ... My decision to study in the Netherlands cannot be separated from my dream to be a part of TU Delft  Graduate program. Being a student in one of the best universities in Europe has been my greatest  expectation. The Electrical Power Engineering Program in TU Delft offers complete studies such as  High Voltage Technology, Power Electromagnetic, Planning and Operation of Power Systems and  Electric Power Conversion, which supported by advanced research labs. My seniors who graduated  from TU Delft told me about the great opportunity for High Voltage Master Student to do lab experiment which is the second largest lab in Europe....

.... Another reason to study in TU Delft is the fact that people who graduated from TU Delft are wellknown for their quality, good-working attitudes and their contribution to our company. It proves  that the knowledge from the university can be directly transferred and implemented at PLN ...  

... My experience in a short visit at TU Delft also strengthens my opinion about TU Delft, Delft and  the Netherlands. It was my precious time in the late of October 2009, when I had an opportunity to give  my presentation in EEUG at TU Delft. Suddenly I settled my heart on that campus at my first sight.  The beautiful scene of Delft city, the bicycles, the awesomeness of the Delft library facility and many  other buildings, and the Marx Generator at High Voltage Lab are still kept in my mind. I also have my  own story about Joe, a man who talked with me while he ran with his 12-year-old dog, Snowie, at  Den Haag's park. Joe knew a lot about Indonesia, including the food recipes, the culture. He could  also mention several cities in Java Island. My chat with Joe convinced me that studying in the Netherlands will be  suitable for me, and to learn Dutch culture during my studies ...


with Joe and his dog, Snowie. October 2009


.. Going study abroad will brighten my opportunity to  have both international and professional  relationships. Making as many as new friends is one of my favorite indulgences; it is also my reason  why I want to study abroad. The information exchange through a good-friendship in future, I believe,  will be useful for company's development in addition. 


--- 
waktu yang bergerak cepat. 
perjuangan ini harus segera dimenangkan.
Merdeka !

Friday, March 23, 2012

DC does not exist !

Hari ini sebelum jam 11 siang, saya masih kesulitan untuk menyadari bahwa hari ini luar biasa. Anugerah langit biru, matahari cerah, dan kesejukan udara baru tersadari keberadaannya setelah exam bersama Peter Morshuis terlewati. Yap, rasanya plong setelah melewati exam High Voltage DC. Mata kuliah senilai 3 kredit ini bagi saya sulit karena selama proses kuliah hanya sebagian kecil saja yang sanggup terpahami. 

Namun kemudian, setelah mendapat free penuh 2 hari, saya meniatkan untuk menggenjot persiapan ujian, dan satu per satu mendengarkan kembali rekaman kuliah yang saya simpan di HP. Ternyata, tidak ada yang mustahil untuk dipelajari, hanya kesabaran dan integritas belajar yang memang perlu dipertahankan selama proses pembelajaran.

DC does not exist, begitu kata2 pertama tertulis di buku karangan Profesor Kreuger terkait fenomena High Voltage DC. Maksud beliau adalah pure HV DC tidak langsung tercipta. Selama proses peng-ada-an DC melewati beberapa fase, termasuk fase AC di kala transient ataupun polarity reversal. Medan elektris menjadi jauh berbeda di bawah kondisi tegangan DC, juga bagaimana terjadinya surface serta space charge di dalam media insulasi, semua dibahas secara detil.

Ya, pembelajaran baru ini sangat menarik. Tidak hanya cukup berhenti pada: OK, DC menawarkan tanpa losses, karena ketiadaan Cos Phi (pemahaman awam saya). Lalu agak lebih dalam, bahwa saluran kabel AC yang panjang (semisal untuk bawah laut)  akan merekrut arus kapasitif yang besar untuk melakukan polarisasi charge di media insulasi secara terus menerus (postif-negatif 50Hz)-- yg hingga pada satu jarak panjang tertentu, arus kapasitif sama besarnya dengan nominal kabel. Yang artinya kabel tersebut berhenti mengalirkan daya, seluruh energi habis hanya untuk perkara polarisasi muatan di tengah jalan (dan gagal melaksanakan tugas mengalirkan energi). 

Buku Profesor Kreuger setebal 180-an halaman -dengan banyak errata di setiap chapter-- ternyata belum cukup memberi gambaran lebih baik tentang space charge. Hingga kemudian slide dari Peter memberikan tambahan disana sini. Pendekatan makro, maupun pendekatan mikro. Makro melalui pemahaman divergensi flow arus, mikro melalui pendekatan energy band gap ala Niels Bohr. 

Sempat hendak mengundurkan diri dari tes pagi tadi, setelah rasanya belum cukup puas dengan persiapan yang dilakukan, namun kemudian menyadari kalau penundaan hanya akan menjadi bola salju terhadap target-target lainnya di hadapan. Sehingga walau ada kecanggungan penguasaan pada beberapa bab  -- dan memang terbukti terbata-bata ketika menjelaskan Partial Discharge DC-- namun ditekadkan maju terus.


----
Langit biru, matahari cerah, udara sejuk, suhu yang bergerak merambah di atas 20 drajat celsius rasanya semakin lengkap. Ucapan selamat dari Peter di akhir sesi ujian, ditambah tawaran tinggal lebih lama 1 tahun di belanda utk mengerjakan proyek GIS DC  saya anggap satu compliment yang patut disyukuri. Walau tetap secara diplomatis saya jawab -- semua tentu tergantung pemilik modal saya: a.k.a PLN. Tentu menyenangkan belajar tentang hal baru, apalagi GIS DC ini hal yang masih tergolong baru di dunia. Namun, tidak lupa ada tanggung jawab lain (serta tantangan) yang sudah menunggu di Republik sana.

--
Istirahat sejenak, 
menikmati cerahnya hari.
mengisi energi,
lalu berlari kembali. 

Saturday, March 17, 2012

Secret Lab in TU Delft

Beberapa hari sebelumnya Paul sudah bercerita, kalau nanti akan ada seseorang yg ingin mengambil beberapa gambar bagian dari HV Lab kami. Itu merupakan satu proyek pengurus website TU Delft di facebook dengan judul besar "Secret Laboratories in TU Delft".

Ternyata mbak wartawan yang hadir rekan dari Indonesia, Muryani Kasdani namanya. Kalau melihat dari kamera di tangannya, jelas dia bukan kelas entry level semacam saya. Dan hasil jepretannya semakin menggambarkan bahwa dia memiliki apa yang Paul katakan "sisi artistik". Berikut hasil jepretannya (atas seijin Muryani Kasdani, terima kasih) :

Diskusi seru dengan Muhannad perihal pergeseran fasa
pada hasil ukur PD dari sensor akustik kami

Bergaya dengan chopper. Ini mainannya rekan Adrian alias Johnny
yang thesisnya ttg breakdown pada insulasi kertas transformer.
Dia bermain2 dengan bentuk kurva impuls, dan alat ini salah satu mainannya

Transformer penyuplai tegangan ke Marx Generator kami.
Maximum hingga 1 MegaVolt melalui sistem kaskade.

Di depan test-setup GIS sebelum dipindah posisi.
Di dalam kompartemen ini, partikel secuil ditempatkan kemudian dianalisa
dengan berbagai sensor yg tersedia.

Mengintip Marx Generator dari balik Sangkar Faraday.
Generator ini mampu membangkitkan impuls hingga 4 MegaVolt

Overview Lab HV TU Delft. di pojok kanan bawah, saya dan Muhannad
 menyebutnya "The Princess" yaitu kompartemen GIS 550kV merk Alstom
yang tidak boleh sembarangan digunakan. 

Wednesday, March 14, 2012

Accelerometer baru (cihuy !)

Sejak kali pertama melihat test setup GIS kami, saya sudah jengah melihat palu, yg menurut PhD student supervisor saya merupakan representasi getaran yg diakibatkan CB. Palu itu terhubung dengan tuas dan barbel, yang dapat ditarik dari jarak jauh dengan tambang. Cukup sehat untuk melakukan pengujian seperti ini, tapi juga cukup mengganggu penghuni lab lainnya dengan suara-suara pukulan tadi. Paul ternyata juga merasa kurang sreg dari segi estetikanya, sementara ketidaksetujuan saya ada pada ketidak-terukuran pukulan yang diberikan oleh palu tersebut. 

Bagaimanapun, energi yang ditransfer kepada partikel di dalam kompartemen menjadi tidak terukur. Lagi-lagi ini menurut saya. Sehingga sedari awal saya mohon untuk dipasangkan accelerometer untuk mengukur  besaran getaran yang terjadi pada GIS setiap pukulan diberikan. (setelah sebelumnya dengan konyol, saya mencoba mengukurnya menggunakan accelerometer di HP nokia saya -- for the shake of knowledge !!)

Setelah melalui proses tanya sana-sini, dan pengadaan, akhirnya 2 hari lalu accelerometer tersebut hadir. Wim membantu memasangkan, tidak lepas dia memodifikasi setup-mengubah barbel-norak kami dengan beban  berbentuk persegi yang terpasang lebih rapi. 

 
 Wim sedang membantu memasang sensor accelerometer

Dari sebuah paper, saya membaca kalau getaran maximum yang pernah diukur pada GIS level 550 kV sebesar 30 G pada komponen Circuit Breaker. Dan pukulan palu yang diberikan selama ini mayoritas ternyata lebih dari 80 G, artinya itu tidak representatif dengan kondisi real di lapangan.

Melalui setup baru ini getaran yang dihasilkan palu-sakti kami dapat dikontrol pada range 15-50G. Beberapa kesimpulan baru dapat dibuat, diantaranya: posisi partikel di dalam kompartemen berhubungan dengan besaran G-force yang dibutuhkan partikel utk mulai melompat; dan sekarang saya bisa hakul yakin bahwa memang getaran dengan level tertentu di kondisi real di lapangan mampu membantu partikel utk berdiri dan melompat-lompat.

Ini mengakhiri perdebatan saya dengan daily supervisor saya, juga memberi satu senyum bagi Paul di sore hari tadi, sekitar 1 jam sebelum seperti biasa Paul mengusir kami dari lab, dan khusus bagi saya dia akan bilang: "this is already selamat makan time, you must leave, cepat-cepat !"