Duduk di sore hari seperti ini membuat saya merenung banyak tentang Nusantara nun disana. Yang terbatas hanya lewat media saya dapat mengetahui beritanya. Tentu saja miris, saya yakin, kemirisan yang sama juga dialami banyak orang yang berada di bawah Merah Putih yang sama. Setiap hari kolom berita berisi tentang situasi yang tidak meng-enakkan, sebut saja cemarut hukum, ketidakwibaan pemerintah dan wakil rakyat, kasus korupsi-korupsi-korupsi-korupsi .. (entah saya harus tulis berapa kali lagi), kasus pembunuhan, teror yang disebar, pandangan separatis, sampai berita2 tentang kekalahan tim nasional negara sendiri.
Saya hanya membayangkan, kalau saban hari yang melulu dibaca adalah berita seperti ini, sekira mental apakah yang akan terbangun dari setiap insan dari ratusan juta penduduk disana? Baiklah, kemudian lebih teliti berpikir, bahwa bad news is a good news, lalu siapa yang ada di balik semua ini dan tengah membangun opini publik serta meruntuhkan semangat juang masyarakatnya.
Atau memang, perjalanan pembelajaran kehidupan ini pergerakkannya lamban. Butuh puluhan dan ratusan tahun untuk membangun sebuah masyarakat yang besar yang sedari pondasinya. Dan lebih butuh banyak lagi insan2 pembangun, yang tidak berambis dibangunkan monumen untuk mengenang jasa2nya, namun secara sukarela menjadi satu mata rantai dalam perjalanan menuju kebesaran bangsa tersebut.
Gambar berikut saya ambil dari wikipedia, tentang sejarah panjang berkehidupan di Nusantara:
Betapa perjalanan panjang ribuan tahun, telah membawa kita pada hari ini, hari dimana istilah demokrasi tengah menjadi trend, dalam konteks pragmatis: saya bebas berbicara, bebas melakukan apa saja, dan kebenaran adalah banyak-banyakan jumlah acungan jari. Lihatlah ke belakang, apa yang pernah terjadi dan sudah menjadi pelajaran dalam sejarah kehidupan kita, lalu melangkah kembali lebih baik di depan. Sebuah looping proses yang terus menerus dan berkelanjutan.
...
Air panas sudah bergolak, bergegas harus kuseduh kopi instan, bayangan ujian oral exam mendatang memecah lamunan serta kembali mengingatkan bahwa setidak2nya dlm perjalanan singkat hidup, manusia bersedia menjadi bagian dari mata rantai yang besar. menjadi secuil sekrup, dari sebuah mesin sinkron yg kompleks.. :)

No comments:
Post a Comment