Sunday, September 4, 2011

internship. (part-1)

Internship, alias kerja praktek, fungsinya sama seperti saat kita S1 dahulu, yaitu mempraktekkan ilmu yang sudah di dapat di dalam kelas dengan pekerjaan real di lapangan. Saat ini pun demikian, selain mengejar pengalaman bekerja di perusahaan belanda, namun niat utamanya adalah mendapatkan ekstra 15 ects yg setara dengan 1 kuarter kuliah electives

Internship dilaksanakan di Arnhem, di perusahaan TenneT, sebuah perusahaan milik pemerintah belanda yang berfungsi sebagai Transmission Service Operator, menangani transmisi sistem kelistrikan pada level tegangan 380kV, 220kV, 150 kV, dan 110kV. Mirip dengan P3B Jawa Bali dan P3B Sumatera di Indonesia.


Letak kota Arnhem berjarak lurus sekitar 100 km dari kota delft, namun dengan rute kereta total jarak tempuh menjadi 120 km. Lumayan jauh untuk ditempuh setiap hari secara pulang pergi. Saya harus berterima kasih pada kawan Julian Aditya yang rela saya tumpangi kamr kosnya di Arnhem beberapa kali selama saya melakukan internship ini. Di menit-menit akhir internship saya melakukannya setiap hari perjalanan ini, cukup sehat, karena dalam 2 minggu saja berat badan saya sudah turun hingga 4 kg.

Saya ditempatkan di TI, yang semula saya kira Teknologi Informasi, namun kemudian ternyata berarti Teknis dan Infrastruktur, pada sub divisi inovasi. Divisi ini merupakan think tank dari Tim Strategic Departemen Asset Management TenneT. Mulai dari perencanaan pembangunan instalasi, termasuk evaluasi terhadap aset yang telah beroperasi. Proyek2 besar yang sedang mereka tangani meliputi 380 kV DC Norned dan Britned.  Di bagian saya ada yang spesialis kabel, ada yg spesialis transformer, spesialis proteksi, spesialis over head lines. Internship saya terkait power cable, sebuah hal baru bagi saya, karena selama saya bekerja di PLN jarang terkait dengan power cable.

Assignmentnya sederhana, secara garis besar ada 2 tugas utama, yang pertama adalah menyusun database power cable, ke dalam software aplikasi TenneT. Software aplikasi ini yang memberikan kemudahan perhitungan dan simulasi, baik dalam kondisi steady state ataupun dynamic/ transient. 

Ada lebih dari 50 model kabel berhasil diselesaikan, dan disimulasikan untuk mengetahui relasi ampacity kabel dengan: diameter kabel, material kabel, soil thermal resistivity tanah, manufaktur, konfigurasi instalasi (paralel/ trefoil), struktur konduktor, dll.. perhitungan pada tahap pertama ini meliputi perhitungan kondisi steady state. Kurva yang dihasilkan nantinya akan digunakan untuk pertimbangan instalasi ke depan TenneT.

Tugas yang kedua cukup menarik, yaitu melakukan permodelan terhadap 4 titik kasus bottleneck di lapangan. Sebagaimana diketahui, kalau belanda adalah rajanya power cable, 100% transmisi MV dan LVnya semua berada di dalam tanah, tak luput level tegangan 110 kV ke atas yang di atas 60% memakai kabel. Ke depan jumlah ini akan semakin meningkat, terlebih kebijakan di belanda, bahwa ke depan tidak akan dibangun lagi Over Head Lines (pabrikan kabel pun bersorak). Faktor sosial politik, serta harga tanah yang selangit menjadikan satu alasan kenapa bangsa belanda lebih memilih instalasi kabel listrik. Lebih dari 100.000 kilometer sirkuit kabel tanah tertanam di bawah tanah.

Awalnya, ke-4 instalasi yang akan diinvestigasi bukan milik TenneT, namun milik perusahaan listrik milik lokal (Stedin, Nuon, etc). Namun kemudian pemerintah belanda berkebijakan agar seluruh aset 110kV ke atas hanya dikelola di bawah satu atap (TenneT), sehingga beberapa historis aset tidak dimiliki lengkap oleh TenneT. Sama halnya dengan pertanyaan, semisal, mengapa ketika membangun kabel di tahun 1970-an ampacity yang disebutkan adalah sekian ratus Ampere. apa dasarnya, dan bagaimana cara menghitungnya.

Hal ini kemudian menjadi satu pertanyaan bagi rekan2 di bagian operasional Asset Management, ketika mereka ingin membebani jaringan kabel tersebut dengan nominal yg disesuaikan dengan load profile masa kini. Untuk investigasi ini, saya cukup mabok, karena harus berkaitan dengan berkas2 tua dalam bahasa belanda. Lalu memodelkannya, mulai dari memodelkan jenis2 kabel yang "langka" (oil pressured, gas filled), menyelidiki nilai soil thermal resisitiviy melalui aplikasi bodemdata, menyusuri jalur2 kabel dengan bantuan GeoneT, dan Googlemaps, menentukan titik bottleneck, menvisualisasi saluran di bawah kanal, ataupun di bawah jalur kereta api, yang pada hasil akhirnya adalah jawaban bagi Tim AM, apakah jalur tersebut masih layak atau tidak dibebani dengan nominal tertentu. Bila tidak, lantas apa solusinya, penundaan biaya investasi seringnya merupakan target utama.

Saya sangat menikmati internship ini, walaupun saya tidak terlalu puas dengan hasilnya, karena saya merasa saya bisa melakukan lebih lagi dengan scientific approach, daripada sebatas engineering approach ketika tool sebagai black box tidak saya bongkar sampai ke dasarnya. rasanya indah kalau kupas tuntas bisa mencakup pada perhitungan numerik dengan lebih detil. Namun supervisor saya selalu mengingatkan bahwa saya hanya 10 minggu berada di perusahaan dan itupun sudah terputus libur summer tanpa pengawasan. Menurut mereka apa yang sudah dilaksanakan sudah cukup, dan lebih baik saya kemudian konsen pada thesis.

Sebenarnya tidak hanya unsur teknis yang saya pelajari selama bekerja di TenneT, namun meliputi unsur non teknis yang meliputi budaya bekerja di perusahaan TenneT.

... ngantuk, lanjut lagi besok.

No comments: