Dalam sebuah kegiatan rekoleksi PSKS di Kampung Sawah tahun 1997, saya teringat betul tentang satu kegiatan sharing kelompok dimana setiap regu diberi satu buah kendi, dan perangkat prakarya, serta memiliki tugas menghias kendi itu menjadi sedemikian indah. Kawan saya ada yang menorehkan cat air di atasnya, ada pula yang menempelkan kertas krem warna/warni, serta tempelan2 potongan kertas berwarna, agar kendi itu menjadi yang terindah.
Waktu yang disediakan adalah 1 jam. Ketika 15 menit menjelang acara usai, satu orang perwakilan setiap regu dipanggil panitia. Kami tidak ada curiga apapun saat itu, hingga kemudian masing-masing kembali ke dalam regunya, dan tepat sekitar 5 menit menjelang kegiatan usai, para perwakilan tadi sontak memecahkan kendi yang sudah dihias sedemikan indahnya oleh masing-masing regu.
sumber gambar: bon-bonblog.blogspot.com
Bereaksi atas kejadian tersebut, sebagian besar kawannya tentu kaget dan tidak percaya, ada yang ingin marah, tapi entah kenapa semua regu juga memiliki kendi yang sudah pecah. Aba-aba dari panitia menginstruksikan agar dalam waktu yang tersisa, setiap regu diharuskan tetap melakukan segala upaya agar menjadikan kendi itu tetap indah. Regu yang pecahan kendinya tak seberapa ada yang mencoba mengkaitkan retakan-retakan kendi satu sama lain, sehingga masih setidaknya berbentuk kendi. Sementara regu saya yang sudah sedemikian leburnya kendi kami, lalu memilih untuk membungkus semua pecahan itu dalam satu kertas krem warna warni dan menghias secepat cepatnya pada bagian luar kendi.
Di akhir kegiatan, tidak ada menang dan kalah terkait keindahan kendi dari masing-masing regu. Namun, pembimbing rohani kami lalu memberikan pesan dengan mengibaratkan kalau kendi itu adalah hidup kita. Kita bisa saja merencanakan beragam hal dengan baik dan indah, target-target dalam hidup kita. Kesuksesan studi, mencari pekerjaan, sukses berkarir, mencari jodoh, hidup berumah tangga dan sebagainya, namun hidup tidak jarang juga berjalan di luar rencana kita. Dalam hidup kita bisa mengalami kejatuhan-kejatuhan yang di luar hitungan kemanusiaan kita. Namun, Tuhan tetap memberikan kita kesempatan untuk meneruskan hidup, dan menghias hidup kita menjadi indah dan berbahagia. Untuk itu, hidup yang penuh syukur dan berserah kepada Allah merupakan pilihan yang utama. Tidak kehilangan pengharapan.
....
No comments:
Post a Comment