Thursday, October 21, 2010

Making Friend

Sabtu sore tanggal 9 Oktober lalu, aku dan Master H sedang duduk di Biara Frateran 125 sambil haha hihi, lalu kemudian ada seseorang muncul di jendela kami, dengan wajah panik dia minta tolong apakah aku bisa membantunya membukakan pintu kamarnya. Si empunya kamar mengaku dia meninggalkan kunci di dalam kamarnya. Setidaknya itu bukan peristiwa aneh bagi mahasiswa2 baru  disini, ada 3 kawanku yang juga mengalami hal yang serupa, krn buru2 berangkat, langsung ngacir, lupa kalau pintu ditutup dari luar secara otomatis akan mengunci. 

Aku awalnya agak bingung juga harus bagaimana, kusarankan dia untuk mengkontak care taker gedung Rolahola (yang ternyata sudah dia lakukan tapi gak ada jawaban), atau pergi ke kantor Duwo si pemilik gedung, namun itu hari Sabtu, dan dia tak yakin apakah kantor tersebut buka. 

Well, memang kudengar kalau hanya sekedar tak sengaja terkunci, pintu masih bisa dibuka dengan dicongkel, walau aku belum pernah mencobanya, dan mungkin momen seperti itu adalah saat yang tepat untuk mempraktekkan kembali keahlian lamaku. 

Alat-alat yang tersedia tidak banyak, beberapa yang kumiliki hanyalah sebagai berikut:

ini pun kuperoleh sebagai perlengkapan standar tinggal di rola hola, langkah berikutnya adalah menjadikan mereka sebagai "pesawat sederhana" yang memanfaatkan fenomena Newton klasik (congkel.red).

dan setelah beberapa kali usaha, aku berhasil membukanya. Kemudian dia berterima kasih. Menyenangkan juga bisa melakukan hal tersebut.

Namanya Carlos Larrea, mahasiswa asal Bolivia yang kuduga sumber-sumber teriakan di malam hari adalah saat-saat dia menyaksikan pertandingan sepak bola Liga Champion. Dan, konyolnya, butuh peristiwa macam itu bagi kami untuk kemudian saling berkenalan, padahal, tinggalnya di samping kamar persis. Mungkin aku mulai asosial karena terlalu asyik menikmati kamar kos-kosan.

Kawan baruku ini mendalami Master Computer Science, dia menduga dirinya cukup tua di usia 27 tahun, karena sebelumnya sudah bekerja 5 tahun di negaranya, dan mengira aku lebih muda dari dia. Well, syukurlah, kalau begitu aku tidak nampak tua.

Seminggu kemudian Carlos mengundangku untuk dimasakkan makan malam sebagai ucapan terima kasih dan merayakan perkenalan kami. Dimasakkannya aku sphagetti yang harus aku akui untuk ukuran cowok masak, itu rasanya enak. Di message board kamarnya penuh dengan foto-foto, terutama foto dia dan tunangannya yang cantik. Ada foto mereka berdua dimana-mana, termasuk ketika si wanita menunjukkan cincin dan surat, yang kuduga itu saat Carlos memproposed pasangannya. (sial, di kamarku message board isinya surat-surat, kertas assignment dan rumus2... ada sih Teh Mulan, itu pun satu2nya). 

Foto bersama keluarga besar pun ada, setting kamar yang bernuansa soccer menunjukkan dia maniak bola. Dia bercerita kalau syal Ajax dia beli ketika menyaksikan langsung pertandingan Ajax vs Milan beberapa minggu lalu. Menyaksikan sepak bola secara langsung di stadion ungkapnya, gak cuma menyaksikan pertandingannya, namun nuansa, teriakan, dan sebagainya memberikan kesan tersendiri.

Well, memiliki teman baru tentunya menarik, mungkin aku harus lebih banyak bersosialisasi lagi daripada menjadi mahluk halus penjaga Frateran 125. Tentunya tanpa harus menunggu ada orang lagi yang membutuhkan keahlianku tadi. haha.

Upaya pencegahan:
1. Memasang petunjuk besar di pintu (saran Mas K)
2. Menaruh sendok di lokasi rahasia di luar kamar.

No comments: